Kita Hanya Sedang Sama-Sama Menunggu
Gus Wisnu, begitu panggilan salah satu teman saya di kantor. Apakah dia seorang Kyai atau ustadz sehingga dipanggil Gus? Setahu saya bukan. Entah kenapa teman-teman di ruangan saya punya kebiasaan khusus memanggil rekan kerja prianya dengan sebutan "Gus". Terutama untuk rekan pria yang nampaknya punya peran strategis. Ada beberapa contohnya seperti Gus Asep yang bisa dibilang bos PKWT, alias PIC dalam perekrutan karyawan PKWT, dan Gus Imam yang...
Sebenernya beliau bukan pegawai di kantor kami sih, tapi namanya cukup tersohor di ruangan sebagai suami dari Mba Tega si penyanyi kondang yang juga bertugas sebagai PIC dalam pemberian izin tugas belajar karyawan.
Jadi Gus Wisnu ini siapa?
Gus Wisnu ini sering dipanggil juga bos remun, karena beliau bertanggung jawab atas pemberian remunerasi karyawan tiap bulannya. Kebayang kan banyak yang menyanjung-nyanjung beliau supaya remunnya lancar tanpa potongan. Bahkan beliau juga punya sebutan-sebutan lain seperti, Cah Bagus. atau Pak Lurah.
Tapi, ketimbang panggilan itu semua saya lebih terbiasa memanggil beliau dengan sebutan Mas Wis. Udah paling gampang dan simpel.
Beberapa waktu yang lalu di Instansi kami terjadi perombakan besar-besaran terhadap jabatan-jabatan strategis. Ada sekitar 200 kepala satuan kerja beserta jajarannya yang di-rolling. Beberapa diantaranya ada yang turun satu level dibanding jabatan sebelumnya, dan bahkan ada yang kembali menjadi staf biasa.
Dengan adanya perombakan tersebut, kecanggungan terjadi di beberapa satuan kerja, termasuk di tim kerja kami. Di satu sisi kami senang dengan diangkatnya salah satu rekan menjadi Ketua Tim Kerja, namun di sisi lain kami juga bersimpati karena pimpinan kami sebelumnya harus merelakan jabatannya.
Kejadian semacam ini tentunya menjadi bahan pembicaraan yang tidak terelakkan, terutama saat jam makan siang. Ada yang pro dengan perubahan tersebut dan tentu saja ada yang tidak setuju. Di tengah-tengah pembicaraan kami saat itu, Mas Wis pun muncul dan ikut menimpali obrolan kami.
"Ya mau gimana lagi, semuanya kan ada gilirannya. Ada seneng ada sedih. Kalo sekarang kita seneng, ya tinggal nunggu sedihnya. Kalo sekarang sedih ya besok pasti ada senengnya. Kita tinggal nunggu aja kok. Kan nggak mungkin dikasih seneng terus atau sedih terus..."
Masuk akal.
Saya juga meyakini hal yang sama, bahwa segala hal itu berpasang-pasangan, bahkan senang dan sedih sekalipun. Tetapi yang sering menjadi permasalahan adalah kita sering lupa.
Yang lagi sedih, berlarut-larut. Yang senang menjadi lengah dan terlena.
Duh dasar kalian manusia!
Sayangnya saya juga termasuk manusia itu, meskipun sering dikira bidadari *plaaakkkkk!*
Kembali lagi, perlu diingat bahwa tidak ada yang abadi, selain Allah SWT, Tuhan pencipta alam dan seisinya. Sedih dan senang kita hanya sementara. Tidak perlu berkecil hati atau jumawa. Semua bisa berubah sewaktu-waktu. Kita cuma perlu menjalani dan mensyukuri saja yang ada sekarang.
Ingar ya, kita hanya sedang sama-sama menunggu.
Jadi, kamu sedang senang atau sedih?
Lagi sedih nih day
BalasHapusKadang sedih dan senang juga pilihan masing-masing kan?
BalasHapus